Suatu hari rumah Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu, tapi karena saat itu Rasulullah SAW tengah berada di medan pertempuran, tamu itupun
pergi setelah menunggu beberapa lama dengan kecewa tanpa berhasil
bertemu sosok idola yang telah lama ingin dijumpainya tersebut.
Sebenarnya ia ingin sekali menunggu hingga Rasulullah SAW pulang,
mengingat ia datang jauh-jauh dari Yaman. Namun seketika pula ia
teringat pesan Ibunya untuk segera pulang dan tidak berlama-lama.
Ketika
Rasulullah SAW datang, beliau bertanya kepada Aisyah tentang seseorang
yang sempat mencarinya. Aisyah membenarkan bahwa ada seseorang berasal
dari Yaman yang mencari Rasulullah SAW, tapi karena terlalu lama
menunggu ia memutuskan kembali ke Yaman mengingat ibunya yang sudah tua
dan sakit-sakitan ditinggal di rumah sendirian.
Kemudian
Rasulullah SAW berkata bahwa orang tersebut adalah penghuni langit.
Beliau menjelaskan di depan para sahabat, “Jika kalian ingin
menjumpainya, perhatikan telapak tangannya, ia mempunyai tanda putih di
sana, dan hendaknya kalian meminta doa serta istighfar darinya, karena
ia adalah penghuni langit, bukan orang bumi. Jika dia berdoa pasti
dikabulkan.”
Kelak pada hari kiamat, ketika semua ahli ibadah
dipanggil untuk memasuki surga, pemuda itu justru dipanggil agar
berhenti terlebih dahulu untuk memberikan syafa’at karena ternyata Allah
SWT memberinya izin untuk memberikan syafa’at.
Dialah uwais Al
Qarni, pemuda tampan dengan rambut kemerah-merahan berpundak lapang
panjang. Seorang yatim yang hanya tinggal berdua dengan ibu yang telah
renta serta lumpuh. Setiap hari ia menggembala domba milik tetangganya
dengan upah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
dan apabila ada kelebihan ia gunakan untuk membantu orang yang lebih
membutuhkan. Pakaiannya pun hanya dua helai.
Tak banyak orang
mengenal Uwais secara pribadi, bahkan lebih banyak yang mengolok-olok,
menuduhnya sebagai tukang tipu dan berbagai bentuk penghinaan lain
terhadapnya. Akan tetapi Uwais adalah pemuda shaleh yang sangat
mencintai Rasulullah SAW dan menghormati ibunya, dia tak menghiraukan
apa-apa yang menimpa dirinya atas perbuatan orang-orang. Hanya saja dia
merasa amat sedih ketika melihat tetangganya sering berjumpa dengan
Rasulullah sedangkan dia belum pernah sekalipun.
Suatu ketika
Uwais Al Qarni mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW giginya patah akibat
lemparan batu musuh, seketika itu juga ia menggetok giginya hingga
patah. Hal itu dilakukan sebagai uangkapan cinta kepada junjungannya
tersebut. Makin hari keinginan Uwais untuk bertemu Rasulullah SAW makin
menggebu. Hingga suatu saat Uwais memohon ijin kepada ibunya agar
diijinkan pergi menemui Rasulullah di Madinah.
“Pergilah wahai
Uwais, anakku! Temuilah Nabi SAW di rumahnya. Dan jika telah berjumpa
dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang,” ujar Ibunya lembut. Ia
sangat memahami perasaan anaknya.
Uwais menyambut gembira ijin
dari ibunya. Ia segera berkemas dan berangkat ke Madinah sembari
berpesan kepada tetangganya untuk menjaga ibunya sementara ia pergi,
meski kemudian ia sangat kecewa karena tak berhasil menemui Rasulullah
SAW.
Waktu terus berlalu, estafet kekhalifahan juga sudah
berganti. Ketika Khalifah Umar bin Khattab memerintah, ia teringat sabda
Nabi SAW mengenai Uwais Al Qarni, pemuda rendah hati yang namanya harum
di langit. Sejak saat itu setiap ada kafilah dari Yaman Umar selalu
bertanya tentang keberadaan Uwais.
Hingga suatu hari ketika ada
rombongan Yaman datang Khalifah Umar dan Ali berhasil bertemu dengan
Uwais yang sedang melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat Uwais
mendekati kedua sahabat Rasul tersebut sembari mengulurkan tangan
mengajak bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra. dengan segera
membalikkan tangan Uwais untuk melihat tanda putih yang berada di
telapak tangan Uwais seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi SAW. Dan
benarlah apa yang dikatakan Nabi, tampak tanda putih di telapak tangan
Uwais Al-Qarni. Selain itu wajah Uwais juga bercahaya.
Khalifah
Umar dan Ali ra. menanyakan nama Uwais yang kemudian dijawab,
“Abdullah.” Mendengar jawaban itu, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami
juga Abdullah, yakni hamba Allah. Siapakah namamu yang sebenarnya, wahai
pemuda?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni.”
“Tolong
bacakan doa dan beristighfarlah untuk kami, Uwais.” “Sayalah yang
harusnya meminta doa pada kalian.” “Kami datang ke sini untuk mohon doa
dan istighfar dari Anda,” ujar Umar.
Akhirnya Uwais Al-Qarni
berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu, Khalifah Umar ra.
menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan
hidupnya. Namun Uwais menolak dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari
ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah
hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Ketika beberapa
tahun kemudian Uwais Al Qarni meninggal, penduduk kota Yaman
tercengang. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya Uwais, kenapa banyak
sekali manusia yang datang berebut untuk memandikan dan mengantarkan
hingga ke pemakaman. Sebab Uwais yang mereka kenal hanyalah seorang
fakir penggembala unta.
Berita tentang meninggalnya Uwais serta
keanehan-keanehannya menjadi pembicaraan di seantero Yaman. Dan baru
saat itulah tetangga serta para penduduk Yaman tahu siapa sebenarnya
Uwais Al-Qarni sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi SAW bahwa
Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.