UWAIS AL QORNI, Penghuni Langit Yang Tinggal Di Bumi

Kategori Tokoh Islam

Suatu hari rumah Rasulullah SAW kedatangan seorang tamu, tapi karena saat itu Rasulullah tengah berada di medan pertempuran, tamu itupun pergi setelah menunggu beberapa lama dengan kecewa tanpa berhasil bertemu sosok idola yang telah lama ingin dijumpainya tersebut. Sebenarnya ia ingin sekali menunggu hingga Rasulullah pulang, mengingat ia datang jauh-jauh dari Yaman. Namun seketika pula ia teringat pesan Ibunya untuk segera pulang dan tidak berlama-lama.

Ketika Rasulullah datang, beliau bertanya kepada Aisyah tentang seseorang yang sempat mencarinya. Aisyah membenarkan bahwa ada seseorang berasal dari Yaman yang mencari Rasulullah, tapi karena terlalu lama menunggu ia memutuskan kembali ke Yaman mengingat ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan ditinggal di rumah sendirian.

Kemudian Rasulullah berkata bahwa orang tersebut adalah penghuni langit. Beliau menjelaskan di depan para sahabat, “Jika kalian ingin menjumpainya, perhatikan telapak tangannya, ia mempunyai tanda putih di sana, dan hendaknya kalian meminta doa serta istighfar darinya, karena ia adalah penghuni langit, bukan orang bumi. Jika dia berdoa pasti dikabulkan.”

Kelak pada hari kiamat, ketika semua ahli ibadah dipanggil untuk memasuki surga, pemuda itu justru dipanggil agar berhenti terlebih dahulu untuk memberikan syafa’at karena ternyata Allah memberinya izin untuk memberikan syafa’at.

Dialah uwais Al Qarni, pemuda tampan dengan rambut kemerah-merahan berpundak lapang panjang. Seorang yatim yang hanya tinggal berdua dengan ibu yang telah renta serta lumpuh. Setiap hari ia menggembala domba milik tetangganya dengan upah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan apabila ada kelebihan ia gunakan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Pakaiannya pun hanya dua helai.

Tak banyak orang mengenal Uwais secara pribadi, bahkan lebih banyak yang mengolok-olok, menuduhnya sebagai tukang tipu dan berbagai bentuk penghinaan lain terhadapnya. Akan tetapi Uwais adalah pemuda shaleh yang sangat mencintai Rasulullah dan menghormati ibunya, dia tak menghiraukan apa-apa yang menimpa dirinya atas perbuatan orang-orang. Hanya saja dia merasa amat sedih ketika melihat tetangganya sering berjumpa dengan Rasulullah sedangkan dia belum pernah sekalipun.

Suatu ketika Uwais Al Qarni mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW giginya patah akibat lemparan batu musuh, seketika itu juga ia menggetok giginya hingga patah. Hal itu dilakukan sebagai uangkapan cinta kepada junjungannya tersebut. Makin hari keinginan Uwais untuk bertemu Rasulullah SAW makin menggebu. Hingga suatu saat Uwais memohon ijin kepada ibunya agar diijinkan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

“Pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan jika telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang,” ujar Ibunya lembut. Ia sangat memahami perasaan anaknya.

Uwais menyambut gembira ijin dari ibunya. Ia segera berkemas dan berangkat ke Madinah sembari berpesan kepada tetangganya untuk menjaga ibunya sementara ia pergi, meski kemudian ia sangat kecewa karena tak berhasil menemui Rasulullah.

Waktu terus berlalu, estafet kekhalifahan juga sudah berganti. Ketika Khalifah Umar bin Khattab memerintah, ia teringat sabda Nabi mengenai Uwais Al Qarni, pemuda rendah hati yang namanya harum di langit. Sejak saat itu setiap ada kafilah dari Yaman Umar selalu bertanya tentang keberadaan Uwais.

Hingga suatu hari ketika ada rombongan Yaman datang Khalifah Umar dan Ali berhasil bertemu dengan Uwais yang sedang melaksanakan shalat. Setelah selesai shalat Uwais mendekati kedua sahabat Rasul tersebut sembari mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra. dengan segera membalikkan tangan Uwais untuk melihat tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi SAW. Dan benarlah apa yang dikatakan Nabi, tampak tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni. Selain itu wajah Uwais juga bercahaya.

Khalifah Umar dan Ali ra. menanyakan nama Uwais yang kemudian dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban itu, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Siapakah namamu yang sebenarnya, wahai pemuda?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni.”

“Tolong bacakan doa dan beristighfarlah untuk kami, Uwais.” “Sayalah yang harusnya meminta doa pada kalian.” “Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda,” ujar Umar.

Akhirnya Uwais Al-Qarni berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu, Khalifah Umar ra. menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Namun Uwais menolak dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Ketika beberapa tahun kemudian Uwais Al Qarni meninggal, penduduk kota Yaman tercengang. Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya Uwais, kenapa banyak sekali manusia yang datang berebut untuk memandikan dan mengantarkan hingga ke pemakaman. Sebab Uwais yang mereka kenal hanyalah seorang fakir penggembala unta.

Berita tentang meninggalnya Uwais serta keanehan-keanehannya menjadi pembicaraan di seantero Yaman. Dan baru saat itulah tetangga serta para penduduk Yaman tahu siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi SAW bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.


Sumber: RZ